Kami akan menerapkan ilmu pengetahuan anugrah Allah SWT untuk menyuburkan dan meningkatkan produksi tanah pertanian, meremediasi tanah tercemar minyak, reklamasi lahan bekas tambang, dan pengolahan limbah cair industri Anda.

Selasa, 19 April 2011

REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG

Kerusakan Lahan di Pertambangan
By : Marindo Palar Vinkoert

Ini adalah gambaran lahan bekas tambang. Lahan ini WAJIB di tanami kembali. Kenapa Wajib ? Kegiatan pertambangan dengan teknik penambangan terbuka (open pit mining) telah menyebabkan perubahan bentang alam, yang meliputi topografi, vegetasi penutup, pola hidrologi dan kerusakan tubuh tanah. Untuk mengembalikan fungsi ekologis, ekonomi dan sosial dari lahan tersebut, maka lahan bekas tambang perlu segera direklamasi. Keharusan untuk melakukan reklamasi pada lahan-lahan bekas tambang tertuang dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Permen ESDM No. 18/2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang. 
Tapi bagaimana caranya…??.

Bioteknologi adalah alah satu cara untuk me-reklamasi lahan bekas tambang ini.

Karakteristik Lahan Bekas Tambang.
Untuk dapat melakukan reklamasi terhadap lahan bekas tambang, perlu diketahui karakteristik lahan bekas tambang itu sendiri.
Proses penambangan terbuka menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari karakakteristik lahan bekas tambang itu endiri, diantaranya adalah: (1). Hilangnya tanah pucuk, (2). Hilangnya bahan organik tanah, (3). Hilangnya mikroorganisme, (4).Menurunnya status biodiversitas organisme baik flora maupun fauna, (5). Hilangnya unsure hara yang dibutuhkan oleh tanaman, (6). Tercemar oleh logam berat, (7). Tanah sangat bersifat asam, (8). Meningkatnya laju erosi, aliran permukaan (run-off), (9).Terjadi sedimentasi dan rusaknya wilayah penangkap air, serta, (10). Terganggunya tingkat stabilitas lahan.

Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Revegetasi Lereng
Reklamasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki lahan pasca penambangan. Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah overburden agar tidak terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air masam tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi. Revegetasi sendiri bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah tersebut. Namun upaya perbaikan dengan cara ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini karena tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang. Oleh karena itu aplikasi lain untuk memperbaiki lahan bekas tambang perlu dilakukan, salah satunya dengan mikroorganisme.
Memanfaatkan Mikroorganisme
Fungi atau jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang secara umum mendominasi (hidup) dalam ekosistem tanah. Mikroorganisme ini dicirikan dengan miselium berbenang yang tersusun dari hifa individual. Hifa-hifa tersebut mungkin berinti satu, dua atau banyak, bersekat atau tidak bersekat. Berkembangbiak secara aseksual dengan membentuk spora atau konidia. Secara umum fungi ini diklasifikasikan menjadi Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan fungi Imperfecti.
Berikut ini adalah contoh beberapa genus fungi yang paling umum dijumpai di dalam tanah, meliputi: Acrostalagmus, Aspergillus, Botrytis, Cephalosporium, Gliocladium, Monilia, Penicillium, Scopulariopsis, Spicaria, Trichoderma, Trichothecium, Verticillum, Alternaria, Cladosporium, Pullularia, Cylindrocarpon, dan Fusarium.
Aspergillus merupakan genus fungi yang mempunyai sebaran dan keanekaragaman yang luas. Sedikitnya terdapat 150 spesies Aspergillus yang terbagi kedalam 18 kelompok, dengan sebaran yang luas baik di daerah kutub maupun tropik, atau pada setiap substrat dengan spora berhamburan di udara maupun tanah.
Saat ini beberapa jenis fungi telah dimanfaatkan untuk mengembalikan kualitas/kesuburan tanah. Hal ini karena secara umum fungi mampu menguraikan bahan organik dan membantu proses mineralisasi di dalam tanah, sehingga mineral yang dilepas akan diambil oleh tanaman. Beberapa genus tertentu seperti Aspergillus, Altenaria, Cladosporium, Dermatium, Cliocladium, Hewlminthosporium, dan Humicoli menghasilkan bahan yang mirip humus dalam tanah dan karenanya penting dalam memelihara bahan organik tanah.
MikroOrganisme Produksi MARROS LESTARI
Beberapa fungi juga mampu membentuk asosiasi ektotropik dalam sistem perakaran pohon-pohon hutan yang dapat membantu memindahkan fosfor dan nitrogen dalam tanah ke dalam tubuh tanaman. Paling tidak tiga kelompok fungi tanah, yaitu Aspergillus, Euphenicillium dan Penicillium disertakan dalam usaha perbaikan lahan, hal ini karena akan membantu mempercepat proses perbaikan lahan tersebut.

Mikoriza juga termasuk fungi. Simbiotik mutualisme atau sering disebut kerjasama saling menguntungkan antara tanaman hutan (inang) dan mikroba tanah yang merupakan dasar pokok dalam mengembangkan bioteknologi mikoriza. Inang, dalam pertumbuhan hidupnya mendapatkan sumber makanan lebih banyak dari dalam tanah dengan bantuan penyerapan lebih luas dari organ-organ mikoriza pada sistem perakaran dibandingkan yang diserap oleh rambut akar biasa. Makanan utama yang diserap adalah fosfor (P) dan juga termasuk nitrogen (N), kalium (K) dan unsur mikro lain seperti Zn, Cu dan B. Melalui proses enzimatik, makanan yang terikat kuat dalam ikatan senyawa kimia seperti aluminium (Al) dan besi (Fe), dapat diuraikan dan dipecahkan dalam bentuk tersedia bagi inang. Karena cuma inang yang berfotosintesa, sebagai imbalannya, sebagian hasil fotosintat (berupa karbohidrat cair) yang dimasak pada daun berklorofil didistribusikan ke bagian akar inang, dan tentunya mikoriza di jaringan korteks akar inang mendapatkan aliran energi untuk hidup dan berkembangbiak di dalam tanah. Dari kegiatan barter antara mikoriza dan inang, maka proses simbiosis mutualistis berlangsung terus menerus dan saling menguntungkan seumur hidup inang.

Mikoriza
Filosofi dasar yang dianut untuk memperbaiki ekosistem hutan yang terdegradasi adalah kembali ke alam (back to nature) dan ramah terhadap lingkungan. Prinsip kembali kepada alam berupa pemanfaatan kekayaan mikoriza di hutan tropika dan menggunakannya kembali mikoriza telah diseleksi dan diinokulasi kembali ke bibit tanaman hutan. Begitu banyaknya jenis mikoriza, maka kita perlu menyeleksi jenis-jenismikoriza yang cocok dengan inang. Sebagai contoh, jenis-jenis meranti (keluarga Dipterocarpaceae) lebih suka bersimbiosis dengan cendawan ektomikoriza, yang berciri ditemukannya tubuh buah cendawan di lantai-lantai hutan pada setiap memasuki musim hujan.
Demikian juga di hutan alam Pinus merkusii di Takengon Aceh, tim peneliti Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam (Bogor) pada tahun 1995 menemukan cendawan dari kelompok ektomikoriza Pisolithus arhizus, yang termasuk kategori jenis super strain, dengan ciri khas sporanya berbentuk seperti buah durian.
Cendawan ektomikoiza ini pun telah diujicobakan untuk kegiatan inokulasi pada beberapa jenis tanaman meranti. Selain itu telah diperoleh juga jenis-jenis cendawan endomikoriza untuk jenis-jenis hutan rawa gambut di Kalimantan TengahTidak mudah memperoleh mikoriza super strain. Kita harus masuk hutan dan mengeksplorasi mikoriza pada setiap jenis tanaman hutan yang tumbuh secara alami. Proses berikutnya, mengisolasi, membiakkan dan memurnikan mikoriza pada media sintetik di laboratorium. Bagian akhir dari proses pencarian mikoriza adalah melakukan preservasi mikoriza dalam bentuk bank isolat mikoriza. Karena kita sudah berinvestasi dari riset ini, maka penyimpanan dan menjaga mutu mikoriza menjadi sangat penting dan suatu saat nanti akan diproduksi dan digunakan skala massal. Apabila kita mendapatkan mikoriza super strain untuk jenis tanaman hutan tertentu, maka kita dapat memperbanyaknya dalam skala massal. Kemungkinan kita mendapat mikoriza yang “biasa-biasa” saja itu bakal terjadi. Atinya, apabila kita aplikasikan tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Adapun kelemahan dari mikoriza adalah mikoriza kurang efektif atau tidak dapat bekerja pada kondisi lahan yang subur, karena rambut akar tanaman hutan dapat langsung menyerap nutrisi dari dalam tanah tanpa bantuan mikoriza.


MORGANIK-SR

MORGANIK-SR (MARROS ORGANIK-Soil Reconditioner), adalah pupuk organic berbentuk curah, yang diformulasi dari bahan-bahan alami. Mengandung C-organik tinggi (min 18%), dan unsur Hara Lengkap. Diperkaya dengan Mikroorganisme Pengurai Bahan Organik dan Penyubur Tanah, Penambat Nitrogen dan Pelarut Phosphat dan Kalium dan sesuai permintaan, kami dapat mengisikan Mikoriza kedalam MORGANIK-SR ini. Mikoriza merupakan fungi yang sangat baik untuk membantu peningkatan serapan hara oleh tanaman, mampu menahan air pada musim kering air, sehingga cocok sekali digunakan dalam reklamasi lahan bekas tambang yang kering.

Untuk pembibitan tanaman reklamasi, dalam pot, atau polibag atau cocopot, gunakan MORGANIK-SR dan Media Tanam Lain dengan perbandingan 1:1.

Sedangkan untuk applikasi ke lahan, gunakan MORGANIK-SR paling sedikit 10 Ton/Ha, dengan mencampurnya dengan top soil yang harus disediakan oleh perusahaan pertambangan ybs.

Karena MORGANIK-SR mengandung formulasi Mikroorganime, maka kelembabannya dalam campuran dengan top soil harus selalu dijaga. Karena itu, lakukan penyiraman pagi dan sore hari.

Untuk pemupukan tanaman, lakukan dengan dosis sebagai berikut :
(a). 1 kg untuk tanaman berumur 1-6 bulan,
(b). 1.5 kg untuk tanaman berumur 1 tahun,
(c). 3 kg untuk tanaman berumur 3 tahun keatas.
Untuk pemupukan ini, MORGANK-SR, tidak bisa ditabur, tapi harus ditanam didalam tanah sekitar perakaran tanaman dengan kedalaman 10 cm, tutup dan siram air.
Untuk hasil yang optimum pemberian MORGANIK-SR diulang sekali dalam 3 bulan.

MORGANIK-Reguler, adalah pupuk organic murni, memenuhi standar yang ditetapkan oleh Dept Pertanian. Pupuk ini berbentuk granul, dan unsur hara yg dikandungan dilepaskan secara perlahan (slow release fertilizer). Produk ini juga diperkaya dengan mikroorganisme sehingga dengan menggunakan pupuk ini, juga dapat menguraikan molekul-molekul hara yang lain menjadi „siap saji“ bagi tanaman. Untuk applikasi pada reklamasi lahan bekas tambang, pupuk ini dapat digunakan sendiri, sebagai pupuk tunggal dalam artian tidak perlu pupuk pendamping lainnya. Akan tetapi kami merekomendasikan untuk digunakan sebagai lanjutan dari proses pemupukkan dengan MORGANIK-SR.

Untuk pembibitan tanaman reklamasi Cocopot/Polybag/Pot :
Campurkan MORGANIK-Reguler dan Media Tanam Lain dengan perbandingan 3:1. Misalnya Pot kapasitas 2 kg , maka jumlah MORGANIK-Reguler  yang dimasukkan 1.5 kg dan ½ kg campuran media lain (seperti tanah, vermicompos, dll).
Untuk pemakaian terhadap tanaman, bisa ditabur atau ditanam. Jika ditabur cukup diletakkan diatas piringan tanaman. Aplikasi pada tanaman, MORGANIK-Reg  dimasukkan didalam tanah sekitar perakaran tanaman dengan kedalaman 10 cm, tutup dengan tanah dan siram dgn air.
Jumlah MORGANIK-Reguler  yang diaplikasi pada tanaman :
(a). 1 kg untuk tanaman berumur 1-6 bulan,
(b). 2 kg untuk tanaman berumur 1 tahun,
(c). 5 kg untuk tanaman berumur 3 tahun keatas.
Untuk hasil yang optimum pemberian MORGANIK-Reguler  diulang sekali dalam 6 bulan.
Untuk pemakaian dilapangan sebagai campuran topsoil, sebanyak 15 ton / Ha, dengan cara dicampur, kemudian siram dengan air pagi dan sore.
Kami anjurkan MORGANIK-Reguler ini di applikasikan antara 1 sampai 2 minggu setelah applikasi MORGANIK-SR. Tujuannya adalah untuk memberikan nutrisi lebih banyak kepada tanaman menyongsong masa pertumbuhannya.

MARROS Bio-Ferti, adalah pupuk hayati (biofertilizer) yang berisi mikroorganisme unggul untuk membantu tanaman menyerap N2 dari udara, P dan K dari tanah. Dianjurkan untuk diapplikasi 1 – 2 minggu setelah applikasi MORGANIK-SR, atau MORGANIK-Reguler.
Gunakan 8 Liter/Ha, dengan cara spraying.
Super TROPOSKA adalah pupuk majemuk an-organik, berbentuk butiran, dengan kandungan N min 15%, P dan K masing-masing 9%. Pupuk ini diperkaya dengan unsur mikro seperti Zn, Co, B, atau sesuai dengan kebutuhan reklamasi. Pupuk ini di applikasikan setelah tanaman berumur 3 tahun ke atas.
Kami siap mensupply Anda dengan produk-produk ini. 

Tidak ada komentar: